Minggu, 17 September 2017

Kajian 1 UAAC Semester Gasal : Sudah Benarkah Waktu Sholat Shubuh Kita?

Share & Comment
Sudah Benarkah Waktu Sholat Shubuh Kita?

Pemateri Kajian : Rusli, Msi
Penulis Artikel : Niswatul Karimah
Editor : Nuralfin Anripa


والله أعلم بالصواب
Kajian perdana di semester gasal Ulul Albab Astronomi Club bertopik tentang sebuah isu yang sangat menarik. Isu yang sudah pernah ramai diperbincangkan dan kembali ramai lagi diperbincangkan yakni Ketidaktepatan Waktu Sholat Shubuh.
            “Mayoritas negera Islam mengumandangkan adzan 9 sampai 24 lebih cepat dibanding waktu sholat shubuh pada aslinya,” ujar pemateri kajian, Pak Rusli, Dosen Fisika di UIN Maulana Malik Ibrahim. “Bahkan di Indonesia adzan juga lebih cepat 24 menit dari waktu aslinya,” tambahnya lagi. Jika melaksanakan sholat sebelum waktunya, apakah sah sholat yang dilakukakan? Tentu tidak karena salah satu syarat sahnya sholat tidak terpenuhi.
            Fakta tersebut terjadi karena keterikatan umat Islam terhadap penanggalan yang telah dibuat oleh lembaga yang berwenang. Tidak semua umat Islam mampu menghitung, bahkan kemungkinan juga tidak semua muslim mengetahui dengan jelas kapan berakhir atau kapan dimulainya waktu sholat. Ketergantungan akan jadwal sholat membuat segala sesuatu menjadi serba instan. “Jadwal Sholat yang  telah dibuat biasanya kan setiap daerah, nah misalnya saja daerah Malang dan sekitarnya. Malang daerah barat dengan Malang daerah timur tentu berbeda jadwalnya kan?” tegas Pak Rusli. “Padahal yang mempengaruhi adalah nilai bujur suatu daerah, bisa jadi pada daerah timur sudah masuk waktu, padahal daerah barat belum,” tambahnya lagi.
            Permasalahan yang ramai dipebincangkan hanyalah sholat shubuh (bukan sholat lainnya) karena terdapat presepsi tentang fajar diantara para ulama’ yang berbeda-beda. Selain itu, waktu sholat shubuh yang sangat singkat dan tingkat polusi cahaya, serta ketebalan atmosfer yang berbeda-beda membuat umat muslim sulit mendapatkan fenomena masuknya waktu sholat secara langsung. Tanda masuknya sholat shubuh adalah ketika terbitnya fajar shadiq.
            “Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menunaikan sholat shubuh ketika fajar sudah mulai merekah” (HR.    Muslim no.969 dari Abu Musa Al Asy’ari.
Beberapa pendapat yang tidak proporsional tentang datangnya fajar yakni berasal dari Ibnu Abbas, Ath Thabari, dan Taqiyyudin Al Hilali. Ibnu Abbas mengatakan bahwa fajar datang ketika jelas terlihat di puncak-puncak gunung. Pendapat At-Thabari yaitu fajar merupakan sinar putih yang menyebar di langit dan terangnya memenuhi jalan-jalan. Sedangkan pendapat Taqiyuddin al-Hilali yaitu sinar putih bercampur merah yang menyebar di ufuk dan terangnya memenuhi rumah2 dan jalan2 sehingga semua orang sepakat tentangnya.
            Pendapat yang proporsional yaitu pendapat Ibnu Qudamah dan Ibn Hazm. Ibn Qudamah mengatakan bahwa fajar merupakan sinar putih yang melebar di ufuk. Sedangkan Ibn Hazm berpendapat bahwa fajar merupakan sinar terang yang melebar di langit di ufuk timur di tempat terbit matahari. Perbedaan dalam memaknai Fajar tentu membawa konsekuensi perbedaan dalam mengidentifikasi terbitnya fajar.
            Dari sisi lain, fenomena awal kemunculan cahaya Subuh itu sendiri, secara fisik, memang ibarat Benang Putih (Q.S 2: 187). Menurut al-Zuhaili, al-Qur’an mengibaratkan fajar dengan “benang putih” dari segi lemahnya cahaya putih subuh itu ketika terbit. (Tafsir al-Munir, 2/147) . Pada siang hari di laut lepas atau di dataran nan luas, dengan berputar ke semua arah, kita akan melihat di kejauhan ada GARIS (ufuk) yang menjadi batas antara langit yang tampak dan yang tidak tampak. Memasuki malam, GARIS itu hilang perlahan ditelan gelap. Di akhir malam, ketika matahari mencapai jarak tertentu di bawah GARIS ufuk timur, semburan cahayanya yang mulai menimpa atmosfir di bibir ufuk itu membentuk citra Benang Putih (الخيط الأبيض) yang memanjang di ufuk (المستطيل في الأفق) dan berbatas jelas dengan Benang Hitam (الخيط الأسود), yakni GARIS ufuk itu sendiri yang gelap.
            Jadi, Fajar Sadiq itu dimulai dari awal kemunculan semburan cahaya matahari di akhir malam yang membentuk citra Benang Putih di sepanjang ufuk timur sebagaimana ditegaskan al-Qur’an dan al-Sunnah, bukan setelah Benang Putih itu berubah menjadi hamparan sinar putih bercampur merah dan menerangi rumah-rumah dan jalan-jalan seperti dalam pemaknaan yang diberikan sebagian ulama. Dalam cuaca cerah tak berpolusi dan dengan pandangan yang bebas ke garis ufuk, awal semburan cahaya matahari di bibir ufuk yang berlatar langit gelap itu tentu tidak sulit untuk dideteksi.
            Dalam cuaca cerah tak berpolusi dan dengan pandangan yang bebas ke garis ufuk, awal semburan cahaya matahari di bibir ufuk yang berlatar langit gelap itu tentu tidak sulit untuk dideteksi.
1)      Fajar Astronomi (posisi matahari 18º di bawah ufuk). Ketika itu cahaya bintang mulai meredup karena munculnya hamburan cahaya matahari.
2)      Fajar Nautika (posisi matahari 12º di bawah ufuk). Ketika itu ufuk mulai tampak bagi para pelaut.
3)      Fajar Sipil (posisi matahari 6º di bawah ufuk). Ketika itu benda-benda di sekitar kita mulai tampak jelas batas-batasnya.
Dengan sifat-sifat seperti telah dipaparkan di muka, cukup alasan untuk menyimpulkan bahwa bagian awal dari Fajar Sadiq tiada lain adalah “Fajar Astronomi”.
            Menurut Thomas Djamaluddin (peneliti antariksa, LAPAN), kriteria posisi matahari yang digunakan ilmu astronomi dalam membagi fajar menjadi tiga adalah didasarkan atas kurva cahaya langit yang tentunya berdasarkan kondisi rata-rata atmosfer. Kondisi ketinggian riil atmosfer sendiri bervariasi. Di kawasan kutub rata-rata 10 km dan di kawasan khatulistiwa rata-rata 17 km. Sehingga secara hipotetik ada peluang di wilayah-wilayah yang atmosfernya lebih tinggi bahwa semburan cahaya fajar sudah tampak walau posisi matahari masih lebih rendah dari -18º. Sedangkan di wilayah-wilayah yang atmosfernya lebih rendah, semburan cahaya fajar justeru baru tampak setelah matahari mencapai posisi lebih tinggi dari -18º.
            Hasil penelitian observasional para ulama dan berbagai kriteria yang digunakan umat Islam di berbagai kawasan dunia cukup mencerminkan keselarasannya dengan hipotesis di atas. Berikut hasil penelitian para ulama’ dari berbagai daerah
1.      Ibn Yunus, Mesir dan Damaskus (abad 10 M) -17º
2.      Abu Raihan al-Biruni, Persia (abad 11 M) -18º
3.      Ibn al Banna al-Marrakushi, Maroko (abad 13 M) -20º
4.      Jadual lain Ibn Yunus -20º
5.      Kemenag RI (Sa’adoe’din Djambek) -20º
6.      Kebanyakan takwim di Malaysia -20º
7.      Mesir -19,5º
8.      Masyarakat Islam Amerika Utara -15º
Bila muncul keraguan atas kebenaran kriteria di atas, maka ”melakukan verifikasi melalui PENGUKURAN ULANG” adalah langkah yang paling proporsional, dengan catatan:
·      Pertama, bertolak dari konsep atau definisi operasional Fajar Sadiq yang jelas dan memenuhi kualifikasi syar’i.
·      Kedua, dilakukan pada saat cuaca cerah, di lokasi yang steril dari polusi cahaya (termasuk cahaya bulan), dan pandangan ke GARIS ufuk tidak terhalang obyek lain.
Ketiga, menghasilkan bukti yang bernilai obyektif (bisa diakses orang lain), sehingga meniscayakan didayagunakannya instrumen kuantifikasi dan dokumentasi yang cermat (semisal fotometri langit dan kamera). 

والله أعلم بالصواب
 
 

Tags:

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

KAJIAN RUTIN ASTRONOMI

Observasi

Ikut Ngamat Bareng Suhu2 MAC

So Why not Join on UAAC?

Copyright © UAAC UIN MALANG | Designed by UAAC